Teori Behaviorisitik

metode teori behavioristik zaman selalu dan akan tetap berkembang seiring berkembangnya sumberdaya manusia, tidak hanya dalam hal teknologi tapi juga dalam hal metode belajar.

Salah satunya adalah metode belajar behavioristik, sebuah metode belajar ampuh yang ketika di terapkan akan sangat membantu proses belajar dan cepat dalam memahami serta lebih jauh lagi sangat membantu untuk mengembangkan potensi diri.

Dan berikut ini adalah daftar materi dalam artikel ini

PENGERTIAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Teori belajar behavioristik adalah teori yang di dasarkan pada perubahan perilaku peserta didik yang bisa di amati, sedangkan teori behaviorisme ini berfokus pada sebuah pola perilaku yang dilakukan berulang-ulang sampai perilaku tersebut berjalan secara otomatis dan spontan.

Prinsip Dasar Dan Tokoh Teori Behavioristik

Seperti kebanyakan teori pada umunya pasti memiliki prinsip dasar atau landasan teori, dan untuk teori behavioristik ini memiliki prinsip dasar bahwa belajar itu adalah proses perubahan perilaku yang dapat di amati di ukur dan di identifikasi.

Bukan pada perubahan cara berfikir yang sifatnya tersembunyi dan sulit untuk di ukur dan di identifikasi.

Sedangkan perubahan perilaku tersebut dilakukan melaluil stimulus, yang di berikan oleh pendidik untuk memancing reaktif/respon dari peserta didik. dan seseorang di anggap telah belajar ketika sudah mulai terlihat dari perubahan perilakunya.

Dan berikut adalah Prinsip Prinsip Teori Behaviorisme :

  • Semua perilaku dikembalikan kepada reflek/respon yang dihasilkan karena rangsangan/stimulus).
  • Mengutamakan pembentukan perilaku baru agar menjadi sebuah kebiasaan.
  • Obyek psikologisnya adalah tingkah laku yang dilakukan oleh pembelajar.

Dan selanjutnya adalah tokoh tokoh Teori Behavioristik antara lain :

Classic Conditioning (Ivan Petrovich Pavlov 1849-19-36)

Classic conditioning adalah sebuah hasil riset serta percobaan yang dilakukan oleh pavlov pada anjingnya melalui sebuah eksperimen.

Selain itu pengkondisian klasik ini adalah proses pembelajaran dimana si penerima pembelajaran akan disuruh untuk mengaitkan atau mengasosiakan dirinya dengan rangsangan(stimulus) yang di berikan.

Dan berikut adalah eksperimen yang di lakukan Pavlov pada anjingnya,

Pemberian makanan =>
Bunyi bel =>
Anjing mengeluarkan air liur
Tidak ada respon
Bunyi bel =>Pemberian makanan
Bunyi bel =>Air liur anjing keluar

Keterangan dari tabel di atas adalah, di awal eksperimennya Pavlov memberikan anjngnya makanan yang menyebabkan di anjing mengeluarkan air liur seperti biasa.

Lanjut di sertai dengan membunyikan bel, namun si anjing tidak memberikan respon apa-apa.

Kemudian dia membunyikan bel setiap memberi makan anjingnya, secara berulang-ulang kemudian setelah eksperimen ternyata si Anjing mengeluarkan liur ketika Pavlov membunyikan bel meskipun tanpa di beri makanan.

Operant conditioning (Burrhus Frederic Skinner 1904-1990)

Dalam prinsip behaviorisme ini Skinner selaku tokoh behaviorisme berkebangsaan amerika tersebut menjelaskan serta memberikan contoh bahwa perilaku seseorang itu bisa di kontrol melalui pemberian reinforcement(pujian/penguatan) serta punishmnet (hukuman).

Dua hal tersebut juga memiliki pengertian sendiri-sendiri yaitu :

  • Reinforcement : (penguatan) sebuah konsekuensi yang diberikan untuk meningkatkan serta menguatkan sebuah perilaku.
  • Punishment : (Hukuman) Sebuah pemeberian konsekuensi untuk menurukan kemungkinan terjadinya sebuah perilaku.

Dalam prinsip ini Skinner melakukan uji coba sebagai contoh pembuktian teori behavioristik pada sebuah tikus yang di letakan di dalam box yang di beri nama “Skinner box”

Dalam uji coba ini skinner memasukan seekor tikus kedalam boxnya tersebut, box yang di lengkapi dengan tombol makanan (mengeluarkan makanan ketika dipencet), alat penampung makanan, serta lampu.

Dieksperiment ini, ketika tikus mulai merasa lapar ia akan mencari jalan keluar untuk mencari makanan. dan ketika ia bergerak ke berbagai arah dan secara tidak sengaja ia akan menekan tombol makanan.

Dan tombol tersebut adalah sebagai bentuk reinforcement (penguatan) sebagai bentuk hadiah usaha tikus yang berusaha mencari jalan keluar.

Dalam teori behavioristik ia memiliki Prinsip Skinner yaitu :

  • Hasil pembelajaran harus segera di serahkan kepada yang belajar, sebagai bentuk untuk tindak lanjut, jika benar dikuatkan jika salah dibetulkan.
  • Proses pembelajaran harus mengikuti pola yang di inginkan orang yang belajar.
  • Sebisa mungkin menghindari adanya punishment dalam proses belajar.
  • Pemberian hadiah kepada tingkah laku yang di lakukan peserta didik.
  • Pada proses pembelajaran lebih berfokus pada aktifitas orang yang belajar.

Ciri ciri dari teori Behaviorisme menurut skinner adalah mengutamakan unsur-unsur meskipun itu kecil, kondisi lingkungan yang mendukung, mementingkan pembentukan reaksi dan respon, menekankan pentingnya sistem latihan, mengutamakan kemampuan hasil belajar sehingga menghasilkan perilaku yang diinginkan.

Koneksionisme (Edward Lee Thorndike 1874-1949)

Teori behaviorisme menurut Edward Lee Thorndike adalah sebuah proses belajar untuk membentuk proses asosiasi antar peristiwa yang disebut Stimulus dan respon.

Untuk tercapainya asosiasi antara stimulus dan respon ini di perlukan yang namanya banyak percobaan (trials) serta banyak kegagalan (error).

Dalam hal ini Edward melakukan sebuah eksperimen kepada kucing lapar yang di masukan kedalam box yang di mana dalam box tersebut terdapat sebuah tombol yang ketika ditekan akan membuka box.

Dan di luar box sudah disediakan makanan untuk kucing yang lapar tersebut.

Dalam hal ini kucing lapar tersebut akan melakukan berbagai trial dan error dengan meloncat-loncat kesana kemari yang akhirnya secara tidak sengaja ia menekan tombol yang membuka box sehingga kucing dapat keluar dan sampai ke tempat makanan.

Dan eksperimen tersebut dilakukan hingga 10 kali lebih, hingga sampai kucing tersebut dengan sengaja menekan tombol agar box terbuka dan menyambut makanannya.

Ciri ciri metode belajar behavioristik trial error ini adalah

  • Adanya berbagai respon dari stimulus yang diberikan atau dari berbagai jenis situuasi dan keadaan.
  • Melakukan eliminasi atau penghapusan kepada respon-respon yang salah.
  • Terciptanya berbagai respon yang mengarahkan ke tujuan yang ingin dihasilkan.

Dalam uji cobanya Edward Thorndike menemukan berbagai hukum dalam teori behavioristime ini. antara lain :

  • Hukum Kesiapan

Ketika sebuah organisme, dalam hal ini berarti pembelajar memiliki kesiapan untuk menerima stimulus, dan menimbulkan sebuah kepuasan individunya maka asosiasinya akan cenderung diperkuat.

  • Hukum Latihan

Ketika latihan untuk mendapatkan kebiasaan baru tersebut tersebut sering dilakukan maka asosiasinya semakin kuat.

  • Hukum Akibat

Setiap stimulus yang diberikan pasti akan menghasilkan respon, jika mengarah ke hal yang di inginkan maka akan diperkuat jika sebaliknya maka akan dilemahkan.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Behavioristik

Sekilas teori ini memang terlihat bagus ketika diterapkan, tidak ada satu metode belajar yang benar-benar sempurna sebagai proses pendidikan untuk semua kalangan.

Karena itu teori behavioristik ini pun tidak terlepas dari yang namanya kelebihan dan kekurangan antara lain :

Kelebihan Teori Behavioristik

Berikut adalh kelebihan dari teori belajar ini

  • Cocok diterapkan kepada anak-anak, dengan metode yang lebih ke guru sebagai center learning teori ini cocok diterapkan ke anak karena masih perlu mendapat banyak contoh perilaku dari orang yang lebih dewasa.
  • Meningkatkan kepekaan guru, dengan menerapkan metode ini guru akan dilatih untuk memberikan perhatian lebih kepada pesera didiknya.
  • Melatih respon peserta didik, selain guru peserta belajar juga latih untuk memberikan respon yang lebih peka serta cepat terhadap stimulus atau rangsangan yang diberikan.

Kekurangan Teori Behavioristik

Beriikut adalah kekuurangan dari teori belajar ini, antara lain :

  • Proses belajar berpusat di guru, dalam prosesnya nanti pembelajaran hanya berfokus pada yang diberikan guru, dan siswa akan memberikan respon pada stimulus yang diberikan.
  • Siswa cenderung pasif, peserta belajar akan cenderung hanya memberikan respon pada stimulus baik keadaan maupun suasana yang diberikan, membuat siswa cenderung menjadi pasif.
  • Penerapan punishment kadang berdampak buruk ke siswa, penerapan punishment dalam prinsip (Skinner ) dalam sisi lain memang untuk mendisplinkan siswa namun disisi lain tak jarang berdampak buruk kepada siswa.

Dan itulah materi mengenai teori behavioristik yang dapat kami sajikan, pada dasarnya teori ini adalah sebuah metode belajar sebagai stimulus untuk merangsang orang yang belajar sehingga menimbulkan sebuah respon sehingga terbentuk sebuah perubahan perilaku.

Perubahan perilaku yang selanjutnya jika salah akan diarahkan ke yang benar dan jika benar akan dilakukan sebuah penguatan.

2 pemikiran pada “Teori Behaviorisitik”

  1. SETUJU banget . . . . . Teori behavioristik sangat cocok diterapkan di mata pelajaran yang mengasah ketrampilan yang bisa langsung dipraktekkan atau langsung bisa diamati hasil pembelajarannya.
    Mata pelajaran pendidikan karakter harusnya menggunakan teori behavioristik dalam metode pembelajarannya. Benar tidak???
    Terimakasih infonya.

    Balas
    • Wah sepertinya ada kesalahpahaman disini…

      Tapi ketika dilihat dari segi teori behavioristik sekilas memang bagus, tapi coba kami baca tentang teori humanistik gan biar lebih terbuka wawasan

Tinggalkan komentar